12 Mei 2020 - 10:10
Melepas "jebakan" krisis pangan dampak pandemi COVID-19

Dengan semringah, Sudardi (77) dan Wiwik Sarwini (67) bergegas menunjukkan beberapa macam tanaman komoditas pangan di pekarangan kecil di belakang rumah yang baru saja mereka tempati beberapa bulan terakhir.

Menurut Kantor Berita ABNA,Sinar Matahari pagi terasa menghangatkan cerita sepasang suami-istri lansia itu tentang asyiknya bercocok tanam, setelah mengundurkan diri sebagai pegawai harian kapel di tepi sawah di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Selama sekitar 30 tahun, mereka mengurus kebersihan dan pekarangan kapel tersebut. Anaknya yang telah berkeluarga dan bekerja di ibu kota di Jakarta, kemudian membantunya membuat rumah di lahan kapling yang sekarang ditempati tersebut.

Satu kapling di belakang rumah Pakde-Bude Dardi --sebutan akrab mereka-- masih berupa tanah kosong. Pemiliknya yang penjual berbagai barang elektronik dan perlengkapan bangunan secara berkeliling antarpulau, saat ini masih "terjebak" di Palu, Sulawesi Tengah. Tidak bisa pulang ke Jawa karena pandemi virus corona jenis baru (COVID-19).

Tanah kosongnya dipinjamkan secara cuma-cuma kepada sepasang lansia itu untuk ditanami macam-macam komoditas pangan secara tumpang sari, seperti singkong, kacang panjang, bayam, lembayung, cabai, dan tomat.

"Saya bilang ke Om Herman (pemilik kapling, red.) untuk ngisi hari tua, untuk nanam-nanam. Apalagi sekarang katanya ada COVID (COVID-19) tidak tahu sampai kapan. Kan lumayan, besok punya sayuran sendiri, panen singkong juga, tidak perlu beli," kata Bude Dardi.

Sejumlah petani setempat lainnya, pada pagi yang hangat hari itu juga asyik bercengkerama dengan musim tanam padi di beberapa petak sawah di kawasan Kabupaten Magelang bagian utara yang berbatasan dengan Kabupaten Temanggung.

Beberapa kali panenan sayuran dari lahan kecil yang digarap Pakde-Bude Dardi itu, sebagian telah dibagi-bagikannya juga kepada para tetangga. Ihwal tersebut menandakan semangat kerukunan bertetangga di kompleks perumahan kapling itu sedemikian erat.

Sejumlah pemimpin komunitas keagamaan yang dianut pasangan lansia tersebut, belum lama ini, juga mengadakan pertemuan terbatas untuk membicarakan pentingnya mulai mengusahakan ketahanan pangan karena ketidakpastian tentang kapan pandemi virus berhenti dan ketidakmungkinan terus menerus mengandalkan bantuan sembako.

Mereka mulai mengantisipasi krisis pangan dengan mendorong setiap warga memanfaatkan lahan yang ada untuk budi daya pertanian tanaman pangan.

Seorang warga setempat lainya, Elisabeth Ika Listyorini (40), menunjukkan praktik terkesan sederhana di rumahnya, namun menjadi bermakna penting dalam mewujudkan kesadaran ketahanan pangan, dengan hasil parutan singkong.

"Nantinya dibikin tiwul," katanya melalui kanal percakapan tertutup pengurus komunitas setempat. Tiwul sesungguhnya bukan hanya dikenal sebagai produk makanan tradisional di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga beberapa daerah lainnya, seperti desa-desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ketidakmungkinan secara terus menerus mengharapkan semata-mata jalur bantuan sembako dari pihak-pihak dermawan, lembaga, atau institusi, mendorong pentingnya warga mengeluarkan jurus membangun ketahanan pangan secara mandiri.

Presiden Joko Widodo menekankan tentang pentingnya antisipasi dan mitigasi krisis pangan sebagaimana secara global telah dikemukakan sebelumnya oleh Badan PBB untuk Pangan Dunia (FAO) terkait dengan dampak pandemi virus, yang juga harus dikerjakan Indonesia.

Terutama ketersediaan beras dengan kelancaran distribusi, tentu masih menjadi salah satu patokan penting menyangkut ketahanan pangan skala nasional.

Dalam mengatasi krisis pangan dampak virus, negara-negara produsen beras --termasuk Indonesia-- akan disibukkan mengatasi kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu, sehingga urusan transaksi dan arus barang impor-ekspor menjadi redup.

Pemerintah mengalkulasi stok dan pasokan, termasuk membuka lahan baru dan menyiapkan lumbung pangan, supaya krisis pangan dapat ditekan seminimal mungkin pada waktu-waktu mendatang.

Bagi kalangan warga desa, barangkali persoalan ketersediaan bahan pangan tidak serumit mereka yang tinggal di kawasan perkotaan.

Lahan pertanian dan pekarangan desa masih cukup memadai untuk mengusahakan ketahanan pangan secara mandiri, terlebih selama pandemi. Hal tersebut, membuat mereka boleh jadi lebih ayem ketimbang warga perkotaan yang secara umum bergantung produk bahan pangan berwujud sembako.

Oleh karenanya, akhir-akhir ini aksi sosial dan kemanusiaan berupa pembagian sembako bagaikan hujan merata setiap hari pada awal musim kemarau di seantero negeri.

342/